Uncategorized

Lebih dari Satu Dunia

di dalam angkot Babakan Raya

Saya tidak tahu.
Benar-benar tidak tahu seperti bangun tidur tadi pagi saat terlonjak dari kasur dan seketika berdebam jatuh. Kaki saya keram ternyata. Eh tapi saya jadi tahu, mungkin itulah rasanya lumpuh.

Tak begitu jauh kerabatnya dengan lumpuh dan keram, Kebas adalah kata mengerikan lain yang biasa saya ambil buat mendeskripsikan situasi hati yang serba bosan. Bahkan lagu ‘Love Hurt’ dari Incubus dulu terasa hebat sekali, ‘love hurt, but it’s sometimes a good hurt. I feel like I’m alive‘ rasa pedih atas sebab apapun adalah lebih baik daripada kebas, itulah kira-kira maknanya. Dan dengan amat sok tau, saya menduga bahwa penderita kelainan kambuhan ini bukanlah saya seorang.


Kita bukan saja generasi Y, tapi juga generasi kebas.
Kebas, kurang peka, berkurang rasa sungguh-sungguh dalam beremosinya, kurang empati, kurang lebih begitu.


Bagaimana responmu melihat berita-berita kriminal yang makin kompleks dan gila?
Dulu judul berita begini mungkin bisa membuatmu maki-maki tak berhenti,”Pelajar diperkosa bapak kandungnya.”

Tapi sekarang? gelarnya lebih panjang macam,”Pelajar diperkosa bapak dan kakak kandungnya sampai melahirkan anak kemudian bunuh diri.” pun alis barangkali hanya bergetar, sudah biasa… begitukah?
Sampai tadi, di atas motor saya terbawa pikiran. Apakah hanya dengan musibah dan maut, kebas baru bisa hilang? Ataukah malah tetap terasa biasa saja seolah bisa ‘Restart’?

Saya rasa mungkin inilah penyebabnya.

Kita hidup separuh di dunia nyata dan lama berenang di dunia maya. Dunia nyata justru jadi terasa tak begitu jelas, rasa awas seperti menyusut sekian persen. ‘Ah ga apa, setelah ‘game over’ tinggal mulai lagi. Kehilangan satu nyawa nanti cari lagi tambahannya.’

Maka kematian seseorang (kecuali amat dekat?), kehilangan sesuatu, peristiwa besar terasa kurang real, ini efek drama-drama korea-turki-india yang kita imporkah?

Dunia nyata seperti kurang nyata,
sedang jalan kemana pun, mesti diabadikan lewat foto yang kelak diunggah ke media sosial. Jika tidak, seperti bukan real. Acara semegah apapun ketika media tidak menyiarkannya, seperti tidak ada apa-apa.

Atau sebaliknya, dunia maya diseret ke dunia nyata,
A memblock B, B meretas akun A memblock C, akhirnya hubungan ketiganya jadi canggung di dunia fisik. follow unfollow di dunia cyber jadi semacam ukuran keharmonisan hubungan kita di alam nyata.


Ada pula yang nyaris setiap hari hidupnya adalah untuk mengikuti kehidupan pribadi para artis, drama yang akan dibintangi, album terbaru, dan seterusnya.. Oke, ini bicarakan diri sendiri.

Kapan kita berhenti? Saat kita sibuk mencari kata kunci dengan nama mereka, bagaimana dengan nama kita? apakah telah cukup berharga untuk jadi berita? Mereka berkarya, hidup dengan pundi-pundi uang mengalir deras berkat kelebaman para penonton. Lalu bagaimana hidup kita? dibikin hectic waktu-waktunya karena aktivitas hiburan yang melebihi kapasitas waktu untuk hiburan.

Jadi, saya tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.
Ada apa dengan kondisi psikologis kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *