Uncategorized

Anda belum beruntung… Coba lagi! :D

Dalamnya hati seseorang tak pernah kita tahu,
dan bagiku sendiri tiada begitulah penting untuk turun dan berkemah lama-lama di jurang-jurang terdalam bernama perasaan manusia itu

sebab jurang hati manusia terlalu beraneka rupa,
ada yang terjal-sempit diapit bijih-bijih besi lengkap pijaran api,
ada yang nampak luas, dalam, ditumbuhi ladang bebungaan hingga hampir-hampir kita sukarela terjun ke dalamnya, tapi ternyata ia enggan dihinggapi.
ada yang dilapisi trampolin dan siapapun selalu merasa aman untuk terjun bolak-balik di sana
begitu macam-macam, begitu antik dan warna-warni

Seringkali aku tertarik berdiri dan teriak-teriak di tepian jurang yang dalam,
kemudian tersenyum lebar sambil mendengarkan gaung kembalinya yang sama keras.
“Teriakan kita bersambut!” kataku pada diriku sendiri, berani terjun?
ah nanti dulu, lagi-lagi aku tak kuasa terlalu intim pada sesuatu

Seperti kebanyakan pemilik lapak lainnya, aku tak tahu persis bagaimana nampaknya lembah milikku.
kadang kadang aku ingin ada yang menggelar karpet dan mendirikan tenda di situ, sekedar untuk mencium bau api beradu ikan hasil menjaring di sungai dekat tepian batu.

kadang-kadang aku ingin ia jadi jurang hantu sekalian,
dan bangga sekali saat para pendaki tebing tak ada yang berani mendekat.

Tadi pagi banyak surat datang mencariku,
begini bunyinya,
“Duhai penghuni jurang yang sepi, cobalah sedikit berbaik diri. Jangan kaku-kikuk seperti layaknya golongan darahmu, lihat tebing-tebingmu itu sudah tajam-tajam seperti ujung pisau. barangkali bisa kau ambil perkakas untuk menumpulkannya sedikit.”

padahal kuberi tahu ya, setiap pendaki yang lewat pasti kutemui dengan sumringah.
tak perlu aku berharap diundangnya lama-lama ke ngarai kepunyaannya, tak perlu muluk-muluk, cukup bertegur sapa dan bereskan urusan segera. setidaknya kita sama-sama enak, bukan saling berbalas manyun.
bila ia mulai pamer-pamer jurangnya yang tajam merekah lewat sinar matanya yang tak nyaman atas kehadiranku, ya aku bisa apa?

kawan-kawanku belakangan ini mengulang sepotong bait masyhur, ‘kita bersikap baik pada mereka yang memang baik dan mau menerima kita. Jika tidak ya sudahi saja. Buat apa repot-repot mendekat.
awalnya kupikir, ah aku bisa lebih baik dari sekedar itu.
tapi ternyata memang keadaan hati manusia itu benar macam-macam.
aku bereksperimen dengan banyak sekali manusia baru.
dan sampai padaku surat dengan bunyian yang mirip-mirip

aku bertanya pada diriku sendiri, ‘Apakah tlah saatnya kita berhenti mencoba?’
dan ia menjawab begitu segera, ‘Tidak apa-apa, benar, tidak apa-apa, jadikan bekal berharga.’
‘Tapi yang datang kembali begini lagi, begini lagi…’
‘Apakah yang kamu harapkan sekantung surat cinta? berlembar-lembar omong kosong gula-gula?’
aku merunduk.
‘Tidak apa-apa, sungguh, tidak apa-apa. Lihatlah engkau kini sudah berbeda, tidak ada rasa galau kelimpungan didamprat anonimus yang suka menghina, bisa jadi memang jurangnya terlalu panas, tidak apa-apa, sungguh. Terlalu mengahabiskan waktu jika terus menekuri perihnya, ambil sebagai evaluasi, bila nyatanya dirimulah yang kurang baik, saatnya memperbaiki!’
‘Tapi bila aku mendapatkan hal yang sama lagi?’
 ‘Anda belum beruntung..coba lagi!’
lalu kita sama-sama tersenyum.

nyatanya memang dalamnya hati seseorang tak pernah kita tahu,
meski bagiku sendiri tiada begitulah penting untuk turun berlama-lama di jurang-jurang terdalam bernama perasaan manusia itu,
aku akan terus mencoba mendekat.
meski ditolak,
terus mencoba tersenyum
meski didamprat lewat mata-matanya yang jelas liar menghina

sebab kadang kadang
aku ingin ada yang menggelar karpet dan mendirikan tenda di ngarai milikku,
sekedar untuk mencium bau api beradu ikan hasil menjaring di sungai dekat tepian batu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *