Uncategorized

Sebuah Renungan

Jeleknya blog kurasa, adalah kita ga selekas whatsApp atau Line, Path, Facebook dan jenis medsos lainnya mendapatkan notifikasi masuk atau sebaliknya, tau ada feedback dari para owner hasil blogwalking kita kemarin dulu. Jadilah terasanya blog ga asik, hanya jadi tumpuan saat kata-kata dalam darah minta cepat cepat dituang di tengah malam. *kok jadinya horror*


Sudah sekitar dua tiga semester belakangan ini saya banyak bergumul dengan orang-orang baru, merasai tinggal di beberapa daerah meski tak seberapa lamanya. Sayang sekali rasanya bila kisah-kisah itu tidak berbekas dalam satu buah tulisan sebagai memori untuk masa yang akan datang.

Ingatan manusia memang tak seperti gajah. Cerita KKP misalnya, saya mencoba mengingat hal hal remeh temeh tapi asik yang saya sukai dari kenangan itu, ternyata ingatan itu sudah samar-samar. Jangankan hal remeh temeh, nama nama orang yang kami biasa jadikan ‘kata ajaib’ karena sepaket dengan kemudahan hidup di sana mulai terlupakan. Kebiasaan jelek saya kambuh lagi, mudah lupa nama orang, dan justru mengingat hal-hal absurd daripadanya. Saya ingin sekali menulis satu per satu terkait KKP, ID, bantu teman penelitian sana sini, banyak cerita seru dan bikin saya merenung. Saya ingin, tapi niatnya kemarin-kemarin belum sampai batas threshold, jadi produknya tidak juga muncul hanya bersisa renungan dalam hati yang saya simpan entah sampai kapan.


Entah tepatnya sejak kapan saya mulai sadari, pikiran semacam ini bolak balik: sepertinya bila saja saya tidak dipertemukan dengan Islam secara ideologi lebih awal, saya akan menjadi seorang humanis. Barangkali inilah efek mendewasa dari kepala dua (mudah-mudahan) kita lebih banyak bisa mengidentifikasi jenis-jenis emosi dan kecenderungan diri, pun kadang orang lain.

Entah humanis yang saya pikir saya paham ini dalam arti benar ataukah tidak, saya terlalu mudah kasian pada jalanan dan berseru-seru pada mereka yang eksistensinya selisihi kehidupan ideal. Mata saya seperti campuran empati dan amarah, penuh kritik sekaligus rasa ingin memahami.

Tapi syukurlah saya keduluan kenal bagaimana Islam bersihkan label terpuji-tercela-baik-buruk tidak semata-mata pada pada jenis suatu perbuatan. Tak seperti humanism yang sepertinya menganggap segala jenis aktivitas telah jelas hitam dan putih dalam kamusnya, seperti membunuh selamanya buruk, berdusta selamanya busuk, dan bersabar selamanya baik. Islam justru ajarkan saya bahwa perbuatan itu bisa jadi baik dan buruk dengan standar tertentu, dan yah mendapatkan standar pakem itulah yang butuh pemikiran lama, sungguh-sungguh, serta siap menurunkan ke-aku-an.

Bukan berarti pada akhirnya mengukur dan melabeli segala sesuatu menggunakan standar  ini merupakan suatu ketidakvalidan dan kegagalan. Bukan. Sebab kurasa siapapun itu selama ia manusia akan tetap hidup dalam subjektifitas. Manusia terlogis manapun tidak akan mungkin hidup tanpa standar tertentu, dia akan pilih satu dari sekian paham untuk dijadikan landasan segala penilaiannya dalam hidup sehari-hari berdasar. Maka kemampuan kita terbatas pada mencari standar terbaik, paling minim galatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *