Uncategorized

Sharing di Mesdos & Ngeblog, Biar Apa?

Jadi, ini sebenarnya mandatory post semacam tugas ospek sebelum resmi join komunitas Forum Lingkar Pena cabang Bogor. Tugas keempat ini yaitu bikin tulisan yang masih ada kaitannya dengan materi terakhir : sharing di medsos dan blog.

Well, di masa kekinian kan ada beragam platform yang bisa digunain seorang penulis untuk berkarya ya.. Ga melulu terbatas pada menerbitkan buku secara fisik. Berkat kemajuan teknologi, kita disuguhkan beragam pilihan media buat nulis. Siapapun bisa dengan mudah dan murah membagikan karyanya dan saling bertukar informasi lewat internet. Nulis di blog, bikin podcast, bikin postingan di Instagram-Twitter-Fb, atau bahkan via platform khusus nulis kayak Whattpad dan Storial. Banyak banget, kan?

Sharing digital content gini beneran bisa jadi alternatif loh! Selain proses setor naskah sampe nerbitin buku memakan waktu yang emang lumayan lama (itu pun belum tentu diterima), kenyataannya jaman sekarang penerbit-penerbit mayor juga mulai melirik para digital content creator buat ngelamar karyanya jadi buku.  Jadi daripada manyun, yuk mulai aja kita rajin sharing di akun-akun medsos kita! Rutinin ngeblog kalau emang ruangnya kurang leluasa..

Biar apa ?

Kalaupun ga tenar dan viral kayak selebgram, at least kita bisa jadikan komitmen ngisi konten medsos ini sebagai habits harian kita. Itung-itung latihan nulis gitu.Seorang mentor nulisku pernah bilang jam duduk (maksudnya lamanya seseorang itu nulis, sambil duduk dong ya?) akan mempengaruhi kualitas tulisan seseorang. Jadi supaya tulisan kita semakin luwes dan berbobot, ya mau ga mau emang harus sering latihan nulis mau dimanapun medianya. Baik dipublikasi maupun diem-diem aja. Nah asiknya lagi kalau nulisnya di medsos atawa ngeblog, kita bisa nyambi latihan nulis tadi, ngisi akun supaya ga berdebu, nyetock naskah sekaligus ngelihat langsung respon pembaca atas karya kita. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui!

Yang penting buat diperhatikan…

Ngobrolin soal blog, di materi kemarin Mas Ilham juga nekenin bahwa sebelum bikin blog semestinya kita perhatikan betul tujuannya buat apa. Apakah blog tersebut digunakan sebagai kumpulan karya kita semacam portofolio, sebagai lahan berbisnis, atau sekadar tempat curhat, dll. Karena tiap tujuan perlu eksekusi yang berbeda dalam menarik target pembacanya. Target pembaca ini bisa berupa rentang usia tertentu atau orang-orang dengan spesifikasi tertentu. Ujung-ujungnya, penyajian blog kita haruslah menyesuaikan preferensi mereka kalau mau ningkatin User Experience.  

Setelah memahami outline tersebut, barulah kita membangun blog sesuai rancangan. Terakhir branding dan kita pasarkan di media sosial yang tepat. So, apakah penting membuat blog?

Jawabannya tentu relatif, bisa penting juga ga penting bergantung apa prioritasmu.

Bagi aku pribadi, seorang yang ingin serius menumbuhkan kembali kebiasaan menulis produktif. Membuat blog ibarat starter atas komitmen tersebut. Selain juga sebagai portofolio karya-karyaku, blog bisa dijadikan dokumentasi beragam aktivitas, tempat nyalin hasil pembelajaran dan berbagi ilmu kepada banyak orang. Pun tulisan dengan niatan dakwah bisa juga turut dipajang di blog. Adapun media sosial adalah sebagai sarana menyebarluaskannya.

Lagi-lagi adalah terserah padamu. Bagi yang kebetulan membaca ini dan passionnya bukan di bidang kepenulisan ya ga apa-apa. Toh berkarya di internet bisa berbentuk audiovisual semisal bikin podcast atau channel youtube. Pada akhirnya yang terpenting adalah kita memanfaatkan waktu longgar bermain medsos untuk naik level, menyebarkan kebaikan bukan lagi sekadar penikmat konten.

Keraguan yang biasanya muncul

Tbvh, sebagai penulis amatir yang masih punya cita-cita bukunya jadi best seller di toko-toko buku besar di tanah air. Adakalanya muncul perasaan khawatir, kalau-kalau karya kita yang baru segitu-gitunya dan dipublikasi secara cuma-cuma di media digital ini disadur, diduplikasi atau bahkan dibajak pihak lain tanpa izin.

Soalnya sempat beberapa kali kejadian semisal foto nikahanku yang dicatut akun kumpulan foto ‘inspirasi islamic wedding’ atau puisi buatanku (yang ga dikasih nama) direpost dan bahkan tulisan di blog lamaku yang dicopas gitu aja. Kesemuanya tanpa izin dan permisi dulu. Untungnya, gitu doang kan.. Seneng-seneng aja karena ternyata ada yang sesuka itu, kebaikannya pun kian meluas. Juga bukan suatu mahakarya yang tengah dilibatkan dalam suatu kontrak serius dengan pihak penerbit, misalnya.

Akhirnya, balik lagi bertanya pada diri sendiri.. Hakikat awalnya apa sih tujuan kita menulis? Betulkah untuk berbagi kebermanfaatan? Jika iya, santuy aja… Ilmu adalah hak setiap muslim yang terserak dimana-mana. Prinsipnya jadi begini: bila itu berkaitan dengan karya orang lain, demi keberkahan ilmu kita wajib sebaik-baiknya menjaga ridhonya. Selalu sertakan nama mereka beserta karyanya bila kita turut menyebarluaskan. Bila itu berkaitan dengan suatu forum berbayar misalnya, selalu mohon izin pemilik karya.

Adapun bila orang lain masih kurang santun dengan mencatut karya kita tanpa kredit, rilekslah dikit.. pandai-pandailah memilah mana yang bisa disebarluaskan cuma-cuma di publik, dan mana yang perlu kita simpan untuk dirilis lewat media lain. Intinya, keep calm dan mulai aja dulu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *