Uncategorized

Pengalaman Pertama Hamil dan Melahirkan (Part 1): Intro

Tadinya aku cuma mau bikin ini privat antara aku dan Haura, semacam surat-surat ibu kepada anaknya. Tapi aku punya blog baru yang kosong, punya waktu yang relatif lebih leluasa dan on mood yang bagus buat nulis, siapa tau ke depannya lebih hectic kan. So, ya aku mau ceritakan pengalamanku hamil dan melahirkan di tahun 2017 ke dalam beberapa tulisan.

Tulisan ini mudah-mudah ga kehilangan faedahnya dan akan selalu related, meskipun ditulis setelah kejadiannya berlalu hampir 4 tahun kemarin. I mean, begitu banyak temen-temen seangkatanku sudah merasakannya sendiri, apa yang baru? Lain cerita kalau aku nulis ini di 2017 masih fresh.. Mungkin bakalan rame temen-temenku berkunjung. Pada akhirnya ya balik lagi, emangnya kita nulis buat apa kan? Aku nulis sebagai dokumentasi pribadi, buat Haura yang utama. Supaya bisa diambil banyak pelajaran daripadanya. Jadi orang lain baca atau engga ya woles aja.

Aku menikah akhir 2016, tepatnya November tanggal 26. Waktu itu kondisinya lagi fase revisi skripsi. Beberapa pekan sebelumnya aku baru aja sidang soalnya. Hari Jum’at persis sebelum akad aku masih sempat ke kampus ketemu dosbing, bawa revisian buat dicoret-coret. Aku juga ingat nyobain salon khusus muslimah gitu di sekitar Bateng, dan takjub sama harganya yang affordable buat mahasiswa (yaiyalah) karena sebelum-sebelumnya disuruh ibu perawatan di Rengganis yang emang beda sih kualitasnya. eh maaf malah jadi bahas salon.

Sampai akhir tahun 2016 kami tinggal di tempat orangtuaku. Pertimbangannya lebih mudah akses ke kampus, aku sendiri masih harus revisian dan rebutan kuota wisuda kan. Sementara mas, mesti mengalah karena PP kerja ke daerah protokol ibu kota naik krl dan dari tempat ibu ke stasiun Bogor itu lumayan banget jaraknya. Tapi tetep dijabanin, apalagi doi mundurin jadwal wisudanya yang mestinya September jadi ke Desember. Mikirnya, lebih gampang aja ke IPB. Tepat 1 Januari 2017 kami pindah ngontrak ke daerah yang tinggal jalan kaki ke stasiun Cilebut. Dan di sinilah mulai terasa lagi, ga enaknya ditanya-tanya. Kalau dulu ditanya, kapan lulus? kapan wisuda? kapan nikah? Sekarang pertanyaannya ganti ke kapan nih isi (bayi)?

Kalau dipikir-pikir padahal aku baru nikah sebulan, tapi kayanya template pertanyaan tiap orang ya seragam. Awalnya aku ga resah, tapi yang paling sering bikin kepikiran adalah raut wajah ibuku pas kujawab,”belum”. Ibu suka menyisipkan pertanyaan,”Ibu-ibu komplek pada nanya, katanya udah isi belum?” atau “Teh, udah telat haidnya?” tiap mampir ke sana. Saat itu ke tempat ibu paling telat sepekan sekali, karena aku masih revisian jadi jatuhnya masih sering bolak-balik Dramaga, dan sering mampir numpang wifi-an di sana juga.

(Ini agak nyesel karena pas masih di tempat ibu malah mager banget urus skripsi padahal tinggal formalitas-formalitas aja. Aku jadi ngerti gitu kenapa bahaya nikah di saat skripsi belum rampung terlebih kalau tipikal kurang disiplin. Bawaannya penganten baru pengennya pacaran mulu. Syukurnya ya aku tinggal print ijo hardcover dan melengkapi syarat buat daftar wisuda aja. Jadi ya lulus juga meskipun kesalip wisudanya sama yang pas aku nikah aja masih penelitian.)

Keresahannya bertambah ketika temenku yang nikah belakangan justru udah upload testpacknya. Aku mulai bertanya-tanya saat itu, apakah ada yang salah? Tapi sering cepet-cepet aku komat-kamit, ini terlalu dini buat mikir yang enggak-enggak. Positif thinking. Allah kasih kesempatan buat belajar lebih dulu. Allah kasih kesempatan lebih lama buat lebih akrab dan bonding sama suami biar kompak pas jadi orang tua. Lebih ke meyakinkan diri sendiri sih akhirnya.

Januari akhir, sekitar tanggal 30an. Aku inget karena saat itu Dufan lagi promo. Adik-adik iparku ngajakin ke sana, weekday. Aku yang waktu itu lagi nginep di tempat keluarga umi dan aba akhirnya bertahan lebih lama di Jakarta. Pertama kalinya aku naik Tornado dipaksa mereka itu, karena pas terakhir kali ke sana study tour jaman sekolah Tornado lagi tutup. Lucunya, mereka yang semangat sementara aku dari ngantri rasanya udah mau kabur pas di atas malah kebalik posisinya.

Ana teriak-teriak mulu minta turun, dan Vira merem sambil ngoceh ketakutan, sementara aku pasrah sambil bilang “Ya Allah, ya Allah” aja. Melek pastinya karena bisa nyimak wajah-wajah mereka sambil ketawa. Udahannya, aku yang emang beberapa hari itu suka agak eneg makin pusing dan mual. “Aduh ini aku kalau hamil, kasian amat ya bayinya..” sambil megang perut pas nungguin mereka pulih di bawah. Alhamdulillahnya setelah itu mereka ga ngajak-ngajak ke permainan yang ekstrim lagi. Waktu itu Hp kami ga ada yang bener jadi sayangnya ga ada dokumentasinya. Ketemu malah foto sehari sebelumnya.

29 Januari 2017, ngedate main ice skating dan ke Rawa Belong.
Udah lama banget ga pake kerudung begini.

Pulang dari Dufan, aku cek testpack yang emang sudah dibeli pas ngedate itu. Hasilnya negatif. Ho, mual karena Tornado kayanya. Selang beberapa minggu, udah di Cilebut lagi aku mulai sering pusing dan mualnya menjadi-jadi. Puncaknya pernah suatu pagi itu aku ngelindur banget ngomongnya. Gimana ya, susah konsentrasi banget. Aku mau masak bubur kacang ijo, tapi ga kuat karena pusing dan lemes. Padahal air udah siap di atas kompor, bahan ada semua di rak. Akhirnya kudelegasikan ke mas. Anehnya aku gabisa sebutin satupun bahan-bahannya boro-boro ngasih instruksi. kehilangan kata-kata aja gitu. Aku coba scrolling di cookpad buat nunjukin resepnya aja ke mas, tapi buat ngetik ‘bubur kacang ijo’ aja aku ga bisa, kaya gatau mau nulis apa. Sampe mas nanya,”Kamu tuh mau nyari apa sih?” Cuma bisa terus-terusan bilang,”itu loh mas.. itu yang aku suka bikin.”

Omong-omong soal bubur kacang ijo, jadi emang sudah jadi ikhtiarku sejak akan menikah dengan banyak makan sumber asam folat, kaya sayuran hijau, kacang-kacangan, kecambah, protein juga. Soalnya ada salah satu materi kuliah yang melekat banget buatku bahwa asam folat ini esensial buat pertumbuhan janin.

Asam folat sangat berperan dalam proses pertumbuhan tabung syaraf, yang biasanya selesai nutup pada hari ke 28 setelah pembuahan (dan biasanya pada hari-hari tersebut perempuan belum sadar kalau lagi hamil). Itulah kenapa idealnya sejak berencana akan hamil bahkan sebelum menikah penting buat nyetok asam folat di tubuh ibu.

Asam folat yang tidak adekuat bisa menyebabkan kondisi NTD (Neural Tube Defect) alias cacat tabung saraf janin. Kondisi medisnya beda -beda yang paling umum adalah spina bifida dan anensefalia (bayi lahir tanpa tulang tengkorak, dan kekurangan beberapa bagian otak). Pada umumnya sekalipun bisa hidup sampai dewasa, anak dengan spina bifida bakal perlu menjalani banyak operasi dan cacat seumur hidup. Sementara kebanyakan kasus anensefalia, bayinya meninggal ga berapa lama setelah dilahiran. Serem ya?

Balik lagi soal pagi yang ngawur tadi. Mas pulang beli testpack dan paginya kita cek. Benarlah, ternyata kondisi ga normal beberapa hari kemarin berkaitan dengan kondisi aku yang positif hamil. Mas senyum-senyum dan berdo’a dilihatin hasil testpacknya. Aku malah bingung, senang tapi kaya banyak bertanya.. apa yang bakal terjadi nih?

Temen sepermainanku belum banyak yang hamil bahkan mayoritas nikah pun belum. Akhirnya aku lebih banyak ngobrol dengan senior dan beberapa temen angkatanku yang juga hamil (yang ini agak jarang sih karena mereka jarang medsosan pas itu).

Aku sendiri berprinsip buat ga upload yang terlalu intens, termasuk testpack demi menghargai sekelilingku (malah suamiku yang upload wkwk). Kebetulan aku berteman dengan seorang ibu yang baru kehilangan bayinya yang berusia beberapa bulan. Aku juga punya senior kampus yang hampir 9 tahun menikah (saat itu) belum juga dikaruniai keturunan. Juga ada temenku yang berkali-kali keguguran. Pada beberapa kesempatan pas aku mau share terkait kehamilan atau anak, aku menghide story instagramku dari mereka dan orang-orang yang sudah menikah tapi belum aku ketahui kabar kehamilannya. Karena khawatir mereka jadi resah dan sedih. Ya gimanapun, namanya hamil pertama kali tentunya kita excited kan?

Kita lanjut ceritanya ke part berikutnya ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *