Uncategorized

Pernikahan

Harus kuakui, pada beberapa hal agaknya ekspetasiku akan pernikahan yang kucita-citakan sejak kecil terlalu sempit. Terkesan terlalu sederhana dan kaku, mungkin juga sebab kurangnya ilmu-ilmu praktis seputar komunikasi lawan jenis (aduh males banget pikirku waktu itu, belajar buat memahami lelaki..), belajar menghandle konflik (selama ini ya pede aja dengan gaya sendiri yang super jujur dan blak-blakan. in my case, aku tipikal yang lebih banyak toleran dan mengalah ketika menghadapi orang lain di luar keluarga), adaptasi dengan kehidupan-kehidupan di luar zona nyaman (menghadapi keluarga yang awam hukum Islam, misalnya.. agak berbeda dengan ketika menghadapi jika itu ‘sekedar’ teman). Dan ilmu praktis lain sebagainya.

Maksudku, pernikahan yang kucita-citakan sejak kecil selalu berdasarkan asumsi bahwa kita sama-sama memulainya dari nol. Bertemu saat sama-sama siap berlari, sebagai orang-orang yang mau terus bertumbuh dan siap saling menguatkan setiap saat. Tak pernah terbayangkan, akan ada fase-fase ragu dan mempertanyakan kesanggupan diri sendiri (menyadari bahwa diri ini memulai dari minus, masih punya luka-luka masa lalu yang perlu disembuhkan karena sedikit banyak mempengaruhi kehidupan saat ini), fase-fase kecewa karena memang sama halnya dengan kita, pasangan kita tidaklah sesempurna list ciri-ciri suami ideal yg selama ini tertanam dalam benak. Atau soal bersikap dengan bijak sebagai sandwich generation di saat baru memulai kehidupan baru (dulu aku hati-hati bahas ini, sekarang lebih enteng dan bangga sih jatohnya).

ya realistis aja, kehidupan pernikahan itu ga mungkin indah melulu. Sama seperti kehidupan kita bersekolah atau kuliah yang ketika menjalaninya selalu ada suka dukanya ga seperfect bayangan kita ketika kegirangan mendapat surat penerimaan mahasiswa baru. Bedanya, kali ini prosesnya panjang, ga ada yang tau pasti kapan lini masanya, bisa jadi seumur hidup. Lulus tidaknya baru bisa terbukti mungkin di akhirat nanti bahkan.

Karena itulah aku agak sepakat dengan kata-kata ini, ‘seumur hidup itu terlalu lama untuk dihabiskan dengan orang yg salah.’

yep, orang yang benar di sini bukan berarti harus plek ideal dan sesuai kriteria kita secara total. aku rasa ga bakal ada, atau ga keburu umur (?). orang yang salah ini lebih ke, ketika kita menikahi seseorang tanpa pertimbangan logis, objektif terhadap value, prinsip dan sikon yang kita punya maupun sebaliknya yang sanggup kita tolerir. Bahkan ketika itu semua sudah dilakukan pun, ketika dijalani tanpa minta petunjuk sama Allah resikonya masih besar kita ‘memilih’ orang yang salah. Bisa dipahami kan ya, maksudku?

Biasanya ini kejadian sama yang udah banyak melibatkan perasaan. Kan sayang, udah sekian tahun.. kan sayang ini itu. Kan udah terlanjur suka. Ketika udah ada tanda-tanda dari Allah pun dilabrak aja. Value berseberangan ekstrim pun dicocok-cocokkan aja. Padahal nikah tuh repot kalau ga selaras pada hal-hal dasar buat kita.

Jadi, pernikahan itu apa?

simpelnya, pernikahan itu tim buat upgrade diri dan jalan sama-sama mencapai mimpi-mimpi kita. temen diskusi ini itu dalam memaknai kehidupan. temen saling ngingetin, support system pertamalah. temen terdekat kita yang paling tau preferensi kita dan peduli soal itu. yang akhirnya tentu bermuara supaya bisa sama-sama kumpulnya di Jannah.

Apakah selama ini ga punya temen/kerabat yang memenuhi itu semua? tentu ada, tapi ya bedalah rasanya, beda juga nilainya. selalu ada batasan.

Emangnya, apa sih yang dulunya aku bayangkan soal pernikahan?

Waktu jaman sekolah sih suka membayangkan kesempatan buat bisa traveling bareng suami, merasakan hidup merantau dan sekolah di luar negeri, deep talk liat aurora gitu. iya tau, klise. terlalu superfisial.

Waktu kuliah nambah bayangannya. Punya keluarga yang rutin punya forum internal setiap harinya, kajian bareng gitu. Mengasuh dan mendidik anak sama-sama dengan aturan Islam.

dulu ga terbayangkan skenario harus mikirin menyelaraskan keinginan orang tua dan plan hidup kita pasca pernikahan gimana, cara dakwah yang ahsan ke keluarga gimana, cara mendampingi adek hingga mencapai kemandirian finansial dan karakter gimana, balancing kesibukan dengan mengasuh dan mendidik anak supaya optimal gimana. semuanya terasa cincai dan sederhana. padahal kalau dijalani ya butuh effort juga buat belajar, bersabar, ikhlas dan mendewasa.

Jadi, apakah semuanya belum kecapai tok?

yang soal merantau tadi belum, tapi selalu merasa one day bakalan kewujud. Soal prioritas aja sehingga saat ini belum bisa.

soal bayangan versi kuliah, belum istiqomah. masih ada futurnya, trus eling lagi.. futur, sadar lagi. ya gitu.

kesimpulannya mau sudah menikah (apalagi telah dipertemukan dengan orang yang tepat), ataupun belum menikah.. banyak-banyak bersyukur sebab sebenarnya sama aja ada plus minusnya…yang penting adalah terus mengupgrade diri, persiapan pulang menghadap Allah. ga ada yang sia-sia..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *